ARTI_BETHEL_BAGI_KITA_SEKARANG
(Kejadian 13: 3,4, 8, 9, 16, 17)
PENDAHULUAN
BETH-EL atau BAIT-EL artinya Rumah Allah; Rumah Damai atau Rumah Roti; “El” artinya Allah, misalnya ELohim, ImanuEL, EL Shadday. Beth-el suatu tempat dimana Abraham membangun Mezbah.
Beth-el juga adalah tempat dimana Yakub bermimpi, Malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga antara Sorga dan bumi. (Kej 28:10-22).
(Kej 35:2-7) Beth-el tempat:
- Allah menjawab doa pada masa kesesakan
- Allah menyertai perjalanan yang ditempuh
- Allah telah menyatakan diriNya
A. BETH-EL TEMPAT KEBAKTIAN (Kej 13:3-4).
- (Ibr 11:8) Dijelaskan bahwa Abraham pergi merantau tanpa tujuan yang ia ketahui, sebenarnya dalam perjalanan Abraham, Allah menunjukkan kota Beth-el kepada Abraham. Tetapi Abraham takut di sana karena sedang terancam bahaya kelaparan dan pindah ke Mesir.
- Iblis memang licik, Abraham ditakut-takuti dulu, dan pindah ke Mesir, di Beth-el Abraham sebelumnya tidak pernah membuat mezbah; Sebab Abraham telah berdos, ia berdusta. Tidak mengakui Sarai sebagai isterinya “Di tempat dosa tidak ada doa, tetapi di tempat ada doa tidak ada dosa”
- Sesudah Abraham kembali ke Beth-el barulah ia membuat mezbah, berdoa memanggil nama Tuhan (ibadah). Demikian juga jika kita undur dari ibadah (Beth el), tidak ada damai di hati, tidak ada berkat-berkat rohani. (Maz 23:3)
B. BETH-EL TEMPAT KEPUTUSAN (Kej 13:8-9)
- Abraham dan Lot harus berpisah; Dan di tempat Beth-el yang tinggi itu mereka membuat keputusan. Abaraham dan Lot melihat sekeliling mereka, Abraham melihat jalan-jalan yang pernah dilaluinya ketika lari dari Mesir.
- Lot juga melihat, tetapi rupanya tidak merasa apa-apa, itulah sebabnya Lot memilih arah Sodom.
- Syukurlah Abraham tidak memilih cara lama, yaitu memakai caranya sendiri (lari ke Mesir), sekarang Abraham hanya mau mengikuti kehendak Allah
Gambaran orang yang sungguh-sungguh sudah bertobat, Abraham membuat keputusan sesuai dengan ibadahnya. Keputusan yang tidak salah (tidak seperti Lot).
C. BETH-EL TEMPAT PERJANJIAN (Kej 13:16-17).
- Setelah Abraham memutuskan bahwa ia hanya mau taat kepada Tuhan, maka Tuhan menampakkan diriNya dengan FirmanNya.
- Abraham tidak mau menentukan pilihannya lebih dulu, membiarkan Lot memilih; Abraham berdiam diri sebab ia berserah kepada Tuhan.
- Sekali lagi Abraham mendengar ulangan janji Tuhan; Jika kita berserah kepada Tuhan maka akan terdengar suara Tuhan lagi. Dengarlah janji Tuhan lewat FirmanNya dan berpeganglah pada janjiNya.
METPAGISAHABAT
Semangat penuh harapan🔥
Diterbitkan oleh Hardimonding
Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.
Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan jutaan orang dari seluruh dunia mengalami kematian dan penderitaan. Apakah Tuhan menghendaki virus corona untuk menghukum seisi dunia?
Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat pandemi terjadi dan merajarela di mana saja. Mereka mungkin berpendapat bahwa banyak manusia sudah murtad, dan karena itu Tuhan menjadi murka. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya malapetaka yang menyangkut seisi dunia tanpa pandang bulu. Pandemi memang banyak terjadi di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, tetapi semuanya terjadi dengan seizin Tuhan, dan sering kali membawa akibat yang baik bagi kehidupan manusia di masa mendatang.
Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya pandemi? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana banyak orang, baik Kristen maupun bukan Kristen, dapat terkena dampak pandemi ini? Jika kemarahan Tuhan disebabkan banyaknya orang yang durhaka yang sudah memberotak dari hukum-Nya, mengapa kemarahan-Nya seakan membabi-buta? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.
Ayat di atas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi resiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa Tuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.
Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.
Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.
Hari ini, jika hidup kita sudah digoncang oleh pandemi ini dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta segala malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan semua orang sudah berdosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan terkadang membiarkan adanya penderitaan bagi umat-Nya untuk penggenapan rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan akan bertindak pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16
Bagikan
Lihat lebih banyak pos