Resiko adalah salah satu strategi jitu menuju keberhasilan
Pengkhotbah 11:6a Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari.
Salah satu strategi usaha yang paling jitu ada di ayat ini, orang yang mau sukses harus berani mengambil resiko menabur lebih dari satu jenis usaha pekerjaan.
Pengkhotbah 11:6b karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.
Dengan mencoba kita sedang menambah ilmu pengetahuan, jika para ilmuwan saja melakukan uji coba berkali kali, walaupun kelihatannya tidak memberi manfaat, namun mereka tidak pernah putus asa, karena mereka punya keyakinan percobaannya suatu saat pasti akan berhasil.
Yesaya 60:15 Sebagai ganti keadaanmu dahulu, ketika engkau ditinggalkan, dibenci dan tidak disinggahi seorang pun, sekarang Aku akan membuat engkau menjadi kebanggaan abadi, menjadi kegirangan turun-temurun.
Orang bijak belajar ketika mereka bisa, orang bodoh belajar ketika mereka terpaksa, jadi disaat miskin tuntutlah ilmu sebanyak mungkin, maka ia akan menjadi hartamu disaat kamu kaya, bahkan akan menjadi perhiasanmu dikala kamu sukses.
1 Samuel 17:28 Ketika Eliab, kakaknya yang tertua, mendengar perkataan Daud kepada orang-orang itu, bangkitlah amarah Eliab kepada Daud sambil berkata: “Mengapa engkau datang? Dan pada siapakah kautinggalkan kambing domba yang dua tiga ekor itu di padang gurun? Aku kenal sifat pemberanimu dan kejahatan hatimu: engkau datang ke mari dengan maksud melihat pertempuran.”
Jadilah pemberani seperti Daud, sewaktu menggembalakan kambing dombanya, dia berani menghadapi singa maupun beruang, jadi berdasarkan pengalamannya Daud sebagai orang percaya, dia yakin bisa mengalahkan goliat.
Pengkhotbah 8:16 Ketika aku memberi perhatianku untuk memahami hikmat dan melihat kegiatan yang dilakukan orang di dunia tanpa mengantuk siang malam,
Ikuti saja perkembangan jaman seperti air mengalir, sebab masalah tidak akan menjadi rumit jika kita bisa menyikapinya dengan baik dan dengan hati yang lapang.
2 Tesalonika 3:8 dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun di antara kamu.
Untuk mencapai keberhasilan selalu ada harga yang harus dibayar, kita harus berani mengorbankan resiko, semakin tinggi nilai yang ingin dicapai semakin besar pengorbanan resiko yang harus dikeluarkan, tanpa itu mustahil bisa berhasil.
Kejadian 30:26 Berikanlah isteri-isteriku dan anak-anakku, yang menjadi upahku selama aku bekerja padamu, supaya aku pulang, sebab engkau tahu, betapa keras aku bekerja padamu.”
Jika Yakub saja sebagai anak perjanjian karena keturunan, mencapai keberhasilannya dengan bekerja keras, bagaimana mungkin setiap orang Kristen yang menjadi anak perjanjian karena adopsi malah bermanja diri tanpa mau mengambil resiko.
Roma 11:21 Sebab kalau Allah tidak menyayangkan cabang-cabang asli, Ia juga tidak akan menyayangkan kamu.
Tetap percaya ada kasih Karunia, mulailah dengan bekerja keras, ingatlah!, bangsa Israel sekalipun mereka berada ditanah perjanjian mereka terkenal dengan kerajinan dan ketekunannya, itu sebabnya mereka menjadi bangsa yang berhasil dan kuat.
Diterbitkan oleh Hardimonding
Siapakah yang tahu jalan pikiran Tuhan? Tentu tidak ada seorang pun. Jika manusia dengan logikanya mencoba menduga apa yang akan terjadi, sering kali justru kejutan yang datang. Jika apa yang datang bukan sesuatu yang jahat, manusia kemudian dengan mudah berkata bahwa kehendak Tuhan tidak dapat ditolak. Tuhanlah yang membuat itu terjadi. Titik.
Walaupun demikian, jika apa yang terjadi adalah sesuatu yang jahat atau kejam, pertanyaan muncul apakah Tuhan menghendakinya. Pandemi Covid-19 sudah menyebabkan jutaan orang dari seluruh dunia mengalami kematian dan penderitaan. Apakah Tuhan menghendaki virus corona untuk menghukum seisi dunia?
Sebagian orang Kristen percaya bahwa karena Tuhan mahakuasa dan tidak ada yang bisa terjadi tanpa kehendak-Nya, Tuhan jugalah yang dengan kedaulatanNya (sovereign will) membuat pandemi terjadi dan merajarela di mana saja. Mereka mungkin berpendapat bahwa banyak manusia sudah murtad, dan karena itu Tuhan menjadi murka. Sebaliknya, ada orang lain yang percaya bahwa Tuhan yang mahakasih tidak mungkin menghendaki adanya malapetaka yang menyangkut seisi dunia tanpa pandang bulu. Pandemi memang banyak terjadi di dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa, tetapi semuanya terjadi dengan seizin Tuhan, dan sering kali membawa akibat yang baik bagi kehidupan manusia di masa mendatang.
Dengan seizin Tuhan? Apakah Tuhan yang mahakasih mengizinkan adanya pandemi? Jika Ia mengizinkan (permissive will) hal yang jahat, bukankah itu berarti Ia ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami manusia? Sebaliknya, jika Tuhan tidak mengizinkan, bagaimana banyak orang, baik Kristen maupun bukan Kristen, dapat terkena dampak pandemi ini? Jika kemarahan Tuhan disebabkan banyaknya orang yang durhaka yang sudah memberotak dari hukum-Nya, mengapa kemarahan-Nya seakan membabi-buta? Inilah masalah manusia yang ingin mengerti apa yang ada dalam pikiran Tuhan yang mahakuasa.
Ayat di atas diucapkan Daniel dan teman-temannya yang menghadapi resiko hukuman mati karena mereka menolak untuk menyembah raja dan patung emasnya. Jika Daniel tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menyembah berhala, ia tidak tahu apa yang akan Tuhan lakukan jika ia dan teman-temannya melawan kehendak raja. Apakah Daniel berpikir bahwa Tuhan menghendaki mereka mati terbakar? Tentu saja tidak.
Daniel tahu bahwa Tuhan yang mahakuasa adalah Tuhan yang mahakasih. Tetapi ia sadar bahwa Tuhan yang mahakuasa dan mahabijaksana berhak untuk memutuskan apakah Ia akan bertindak atau tidak. Jika mereka akhirnya dimasukkan ke dalam perapian yang menyala-nyala, itu pasti karena kejahatan orang-orang di sekitarnya. Bukan karena kehendak Tuhan untuk mengambil nyawa mereka dengan cara yang keji. Tuhan tidak dapat berubah dari gembala yang baik yang melindungi para umat-Nya di satu saat, menjadi Tuhan yang menghancurkan mereka pada saat yang lain.
Apa yang mungkin terjadi adalah bahwa Tuhan terkadang mempunyai kehendak aktif untuk melakukan sesuatu (active will) pada suatu saat, tetapi pada saat yang lain Ia mempunyai kehendak untuk tidak bertindak (passive will), agar semua rencana-Nya bisa terjadi. Kehendak pasif ini sering diartikan sebagai “izin” dari Tuhan untuk terjadinya sesuatu yang kurang baik. Kedua kehendak itu bisa dilakukanNya pada saat yang dikehendaki-Nya, tanpa dipengaruhi oleh apa pun dan siapa pun karena Ia adalah Tuhan yang mahakuasa.
Hari ini, jika hidup kita sudah digoncang oleh pandemi ini dan kita merasa sangat menderita, janganlah kita menuduh bahwa Tuhanlah pencipta segala malapetaka di dunia. Dunia ini sudah jatuh ke dalam dosa, dan semua orang sudah berdosa, dan karena itu segala penderitaan dan bahaya bisa terjadi pada siapa pun. Tuhan kita yang mahakasih bukanlah Tuhan yang menciptakan malapetaka ataupun perbuatan jahat untuk umat-Nya. Malapetaka dan kejahatan adalah konsekuensi kejatuhan manusia dan mungkin juga hasil pekerjaan iblis. Memang terkadang Tuhan seakan tidak mau bertindak menolong umat-Nya, tetapi kita harus yakin bahwa itu bukan berarti Tuhan tidak peduli akan penderitaan kita. Sekalipun sulit kita mengerti, Tuhan terkadang membiarkan adanya penderitaan bagi umat-Nya untuk penggenapan rencana-Nya. Walaupun demikian, Tuhan akan bertindak pada saat yang tepat sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu, dalam menghadapi tantangan hidup, apa yang perlu kita pertahankan adalah keyakinan bahwa Ia adalah Tuhan yang mahakasih.
“Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.” 1 Yohanes 4: 16
Bagikan
Lihat lebih banyak pos